Teror Kembali Datang Surabaya Berduka

kepalapolitik РBeberapa hari ini Indonesia khususnya di Pulau Jawa sedang diguncang oleh terorisme. Kejadian kejadian seperti di kerusuhan yang terjadi di mako brimob. Baru baru ini kejadian bom di 3 geraja yang ada di surabaya. Banyak yang menyangkutkan kejadian di Mako Brimob memicu serangan Bom di 3 Gereja di Surabaya. Sungguh aksi biadab yang dilakukan oleh teroris laknat ini yang menghilangkan banyak korban jiwa.

mereka yang telah mati konyol untuk membom 3 gereja, mereka adalah keluarga yang baru pulang dari suriah. Dan foto ini di infokan empat tahun lalu di cetaknya.
Teror Kembali Datang Surabaya Berduka
Surabaya kota yang meneriakkan takbir ketika mengalahkan penjajah. Tapi sayang seribu sayang kini kata itu dijadikan lahan untuk menteror orang. Bahkan dengan membawa dua anak kecil seorang ibu tega membunuh dirinya dan anaknya sendiri

Memang menurut bapak Kapolri Tito Karnavian, mereka yang meledakkan diri di gereja merupakan satu keluarga. Mereka para teroris dengan seorang bapak berinisial d bersama istrinya k dan juga dua anaknya. Mereka berangkat menggunakan toyota avanza yang telah dipasang bom. Mobil dikendarai oleh orangtua berinisial d


Kemudian ia tiba di salah satu gereja dan D menurunkan (mendrop) istrinya berinisial K dan dua anak perempuannya FS (12) dan VR di gereja di GKI jalan Diponegoro, setelah itu ia meninggalkan mereka dan D pun membawa mobil yang menurut dugaan memang berisi bom menuju Gereja Pantekosta.

Lalu untuk anak laki-laki pasangan D dan K, berinisial Y dan Ir, mereka berangkat sendiri dengan motor berboncengan ke arah gereja Santa Maria.

Hingga di waktu yang berdekatan terjadilan teror yang mengerikan, hancur sudah 3 gereja tersebut dan banyaknya timbul korban dari mereka yang sedang berdo’a pada Tuhan, Surabaya berduka dan menangis, hingga terasa ratapan anak negeri tentang teror yang kembali datang seakan ingin bercerita pada kita ada yang salah terhadap agama terorist.

-Surabaya Berduka-

Agama Islam pun kembali disudutkan inilah yang terjadi kini. Bahkan seorang muslim pun kaget dan terharu kok bisa mereka tega dengan menjadi martir. Dengan membunuh anak anak dan orang lansia yang ada di dalam gereja.

Mereka sudah terdoktrin secara organisasi dan juga keyakinannya, kenapa demikian ? Untuk menjadikannya martir tidak semudah yang kita kira, mereka butuh waktu tahunan diawali dengan pengajian yang bersifat tertutup dengan dalil-dalil yang ditanamkan untuk membenci orang lain baik itu dari pemerintahnya, dan non muslim. Ketika sudah yakin barulah dijalankan aksi tersebut, dengan mudah menanamkan kata “semua yang bernyawa pasti mati, maka matilah dengan syahid dengan membela panji yang diyakini” bahkan darah muslim yang bukan kelompoknya pun halal karena bagian dari thaghut.

Lalu apa yang harusnya kita sadari, doktrin-doktrin seperti itu merayap dari semua lini, maaf banyaknya para pemuda yang mudah digoyahkan dengan semangat lagu-lagu nasyid, video tentang aksi heroik dan merupakan aksi syahid di tengah serbuan zaman yang sudah rusak moralnya.

Walau sudah banyak artikel yang mengulas tentang sesatnya keyakinan mereka yang melakukan teror dan cara pendekatannya tapi kenapa masih saja terjadi lagi ? Hanya satu kata sebuah “keyakinan”. Ketika anda mengimaninya di dada walau banyak nasehat yang melarang tetap saja keyakinan itu tak bisa di lawan, keyakinan yang salah ini hanya bisa dilawan dari dalam diri sendiri dan juga keyakinan yang serupa tapi lebih intens menyuarakan kedamaian dengan aksi nyata.

Faktanya para elite politik lebih suka sikut sana dan sini, padahal fakta yang terjadi kehancuran negara ini di pupuk dengan perlahan dengan sentimen beragama. Jelas sudah kerusuhan mako brimob berkaitan dengan aksi nyata di lapangan, mereka ingin menunjukkan bahwa gerakan mereka tetap ada walau jumlahnya sedikit.

jangan biarkan para penjahat itu tertawa diatas penderitaan negara kita,
jangan terbawa emosi untuk saling menghujat diantara anak bangsa,
Mari lokalisir para pencipta teror, pemanfaat air keruh, tidak hanyut dalam permainan mereka,
Dan tentunya lokalisir amarah agar tidak menyakiti perasaan sebangsa dan setanah air.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *